Sedekah tanpa repot mengantar (Menanam tanpa repot Memetik)

Di depan sebuah rumah yang bagus, tumbuh subur beberapa pohon yang cukup besar. Kepada yang punya rumah, aku bertanya, "kenapa tidak menanam pohon yang ada buahnya, misalnya mangga." "Untuk apa? Lah meski ada buahnya kita juga tidak ikut memanen" kata yang punya rumah, yang juga seorang sahabatku.

Di tempat lain, Abbi bercerita, bahwa beliau menanyakan kepada orang yang sedang menebang pohon mangga di tanah miliknya sendiri, namun orang itu tinggal agak jauh dari situ. "Yang mengambil buahnya juga bukan aku, tapi maling-maling kecil itu" begitu alasan orang itu menebang pohon yang biasanya berbuah lebat.

Di satu sisi, banyak diantara kita yang mudah sekali mengambil milik orang lain, tanpa takut pemiliknya itu tidak ridlo. Di lain pihak, banyak diantara kita yang mudah sekali tidak ridlo jika milik kita dimanfaatkan oleh orang lain.

Abbi mengatakan pada orang yang menebang tanamannya sendiri itu, "Kalau kamu tebang pohon itu, kamu sama sekali tidak akan memanen mangga. Tapi kalau kamu biarkan saja pohon yang sudah kamu tanam itu, maka ada kesempatan kamu bisa memanennya."

Sedangkan sebelumnya, yang aku katakan kepada sahabatku tadi "Berhubung kamu tidak ikut memanen itulah, kesempatan kamu untuk sedekah" "Tapi...", jawab sahabatku, tanpa bisa melanjutkan kata-katanya. Aku tahu, dia sangat baik pada saudara, dan teman-temannya, tapi mungkin jengkel, jika dia repot-repot menanam, tapi yang memetik buahnya adalah anak-anak di kampungnya.

Begitulah, banyak diantara kita enggan bersedekah dengan mudah. Bersedekah tanpa repot mengantar kepada yang membutuhkan. Bahkan kita tidak mau 'menanam' sesuatu yang menghasilkan, jika itu nanti hanya dimanfaatkan oleh orang lain yang tidak kita kenal. Padahal itu bisa menjadi sedekah kita, bahkan jika yang memanfaatkan itu seekor burung sekalipun, itu adalah sedekah kita. Bahkan ada orang yang rela 'kehilangan' asal tidak memberi. Menebang 'pohon'-nya sendiri.

Ya, tidak semua orang seperti itu. Misalnya Ummi yang ketika ada orang membeli buah mangganya, beliau ambilkan dari pohon yang ada di belakang. "Oh, yang di depan, yang di dekat jalan itu, untuk diambil orang-orang yang lewat." begitu jawab Ummi, ketika ada yang bertanya. "Atau kalau ada tamu biar bisa memetik sendiri."

Pilihan kita. Ingin bermanfaat, atau tidak mau dimanfaatkan. Berpikir "kok enak, aku yang 'menanam' kok orang lain yang 'memetik'" ataukah "sedekah tanpa repot mengantar".

"Tuhan, jadikan kami termasuk golongan orang-orang yang ikhlas"





Ayuna Fitria Fadjrin 
padahal itu ladang untuk beramal... hidup jangan terlalu pelit...


NV Harjosuwitoe 
kita jangan melihat dari satu sisi saja . . .? Polapikir sese orang tentu berbeda tergantung mereka dari cara pandang negatif atau positif


Maivira Syakhi
Lha saya nanam pisang kepok di sini malah di babat saudara, tp anehnya org itu sering bilang saya ga bisa makan, laper ?, ...& klo saya udah panen pisang yg di halaman depan, dia yg menghabiskan, ha ha ha


Afandi Kusuma 
oh ya.. ada yang ketiga...
'takut' sekali 'tanaman' kita dimanfaatkan orang lain tapi suka sekali memanfaatkan 'tanaman' orang lain.


Maivira Syakhi 

Kalo kita gemar menanam pohon yg berbuah, itu ladang pahala kita tanpa harus susah membuat buah tsb, karna yg bekerja membuat buah tsb adalah gusti Alloh ta'ala, coba klo beli di pasar, hrs pake uang, kerja dulu, ...yah, ...


Afandi Kusuma 
“Tidaklah seorang muslim menanam suatu tanaman melainkan apa yang dimakan dari tanaman itu sebagai sedekah baginya, dan apa yang dicuri dari tanaman tersebut sebagai sedekah baginya dan tidaklah kepunyaan seorang itu dikurangi melainkan menjadi sedekah baginya.” (HR. Imam Muslim Hadits no.1552)


Afandi Kusuma 
“Tidaklah seorang muslim menanam pohon, tidak pula menanam tanaman kemudian hasil tanaman tersebut dimakan oleh burung, manusia atau binatang melainkan (tanaman tersebut) menjadi sedekah baginya.” (HR. Imam Bukhari hadits no.2321)


Afandi Kusuma 
“Tidaklah seorang muslim menanam tanaman lalu tanaman itu dimakan manusia, binatang ataupun burung melainkan tanaman itu menjadi sedekah baginya sampai hari kiamat.” (HR. Imam Muslim hadits no.1552(10))


Aditya Rahmat Putra 
pengen jd org yg suka menanam kebaikan, hehehe...


Afandi Kusuma 
Aditya Rahmat Putra ...


Asri Terate 
kt itu berbuat apa sj hrs dg niat mas diniati jaryah dan shodaqoh. itu sdh komplit plit ....dpt dunia dan akhirat,sepiro kelonge diambil orng..niati shodaqoh...tolak balak..wong njupuk mergo pingin lan g duwe..insyaallah smua orng g mau jd orng yg hina..pinginnya mberi klo ada..jelas lipat ganda gantinya.la timbang di potong pohonya g bisa shodaqoh lagi...smg sedikit orng yg pelit bin kikir alias cuuetil. amin


NV Harjosuwitoe 

kita kembali ke bait perbai diatas postingan * aduh ada tamu


Aditya Rahmat Putra 
menarik dulur ! tp utk menjadi org yg bnr2 ihlash jk milik kt d ambil org, amatlah susah dan berat. tp bkn berarti tak bs,kalau hati kt tak bnr2 bersih dan tawakal pd ALLAH. bersyukur ats yg tlh d brikan pd kt.


Umroatul Mufidah 
Jadi keingat kebunnya ortuq yg jarakx beberapa rmh dr rmh q. Tanaman pisang, mangga,singkong slalu ilang ktika da ranum buahnya. .
Ada tetangga yg bilang pencurix adl org dkt rmh q jg. Mungkn krn ortuq ikhlas n ga negur tu org makax kterusan ngambilx.
Beda dg kebunx pak A, pernah daun singkongx dicuri org,dy marah ga karuan n pencurix didamprat abis. .makax kebunx slalu aman. .

Dr sini q brpikir, , jk yg punya tnaman it orangx jahat maka ga ada yg brani mencurix. .


Afandi Kusuma 
Umroatul Mufidah, makanya itu... pilih jadi orang jahat atau jadi orang baik...
hehehe


Harjo 
mas Afandi.q sk s x bc pos smpean hr ni.(tak bc smpe 3 x).ni q mau nambain dikit.mngkin niat prtamat q memang shodahoh,apapun itu bntuknya.ni contoh kcil,ad seseorang yg nanam pisang dgn niat untuk umum(lahan kosong milik desa),siapapun boleh ambil daun jg buahnya.yg q jd ikut kcewa adlh cr seseorang yg ngambil dgn cr sesukanya,dak brfikir mengambil dgn cara merusak pohon itu orang lain jd dak bs ikut menikmatinya.jujur q jd ikut kebawa kecewa,..gmn mnurut mas.ihlas itu sulit ya mas.


Afandi Kusuma 

Harjo beberapa bulan yang lalu saya pernah posting seperti itu. Yang saya tawarkan waktu itu adalah: daun pandan, Serai, daun sirih, daun pisang, dan buah blimbing wuluh.
(insyaAllah hari ini masih ada dan yang saya tawarkan waktu itu masih berlaku)


Rusman Fathoni 
Terima kasih atas cerita yang batyl betul bermanfaat ini


Adi Wasito 
Nang omaku Fan... onok pelem gadung.. manalagi...koplor... kabeh saiki uwo... siap metik.... tapi sek kurang tuwek saiki...



Mac Rahmat Hidayat 
Posting membangun.


Afandi Kusuma 
sip .. sip .. Adi Wasito


Catur Prayogi 
Jadi inget ayat ini. “Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak ada (pula) kesusahan bagi merekai”.(QS:Al-Baqarah.274) Dalam ayat ini Allah menjanjikan bagi siapa saja dari kita yang mau bersedekah, Allah akan memeliharanya dari segala bentuk kekhawatiran dan segala bentuk kesedihan dan kesusahan. Semoga kita semua dijadikan orang yg ikhlas ‘


Arif CancerLeo 
klo prinsip orang2 dulu,pohon yg tumbuh d pekarangan buahx tdk boleh d jual.


Priyo Yulianto 
Wah ini sepertinya sindiran hehehe....


Simon Hermawan Halim 
bener iku masbro, sangat bermanfaat


Afandi Kusuma 
Arif CancerLeo, lalu diapakan? Apalagi kalau banyak.



Afandi Kusuma 
Priyo Yulianto, tidak perlu ada yang merara tersindir, ini untuk kita semua


Afandi Kusuma 
Simon Hermawan Halim, mengenai kepedulian pada sesama dan ikhlas dalam beramal, diajarkan di semua agama.


Arif CancerLeo 

family & tetangga jg bnyak,klo sering2 d kasihkn,ttangga jg bkal KEMBALI KASIH.ntah brupa uang SEADANYA,barang SEADANYA atw senyum SEADANYA...gkgkgk

 
© 2011 Catatan Afandi Kusuma | www.ok-rek.com | DutaPulsa | OkRek | Facebook | Twitter | BlogRoll